Informasi karya ilmiah

Abstrak
Anemia merupakan masalah kesehatan yang ditandai dengan penurunan jumlah eritrosit
atau kadar hemoglobin. Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) mengandung zat besi,
vitamin C, asam folat, dan flavonoid yang berpotensi mendukung proses eritropoiesis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian suspensi bayam merah
terhadap jumlah retikulosit pada tikus putih (Rattus norvegicus) model anemia serta
menentukan dosis optimum. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik
menggunakan 25 ekor tikus putih jantan galur Wistar yang dibagi menjadi lima kelompok,
yaitu kelompok normal, kelompok negatif, dan tiga kelompok perlakuan yang diberi
suspensi bayam merah dengan dosis 0,2 g/kgBB, 0,4 g/kgBB, dan 0,6 g/kgBB. Model
anemia diinduksi menggunakan phenylhydrazine (PHZ) selama 2 hari dan deferiprone
selama 7 hari, kemudian diberikan suspensi bayam merah selama 14 hari. Pemeriksaan
jumlah retikulosit dilakukan secara manual menggunakan pewarna Brilliant Cresyl Blue
(BCB). Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA. Hasil penelitian
menunjukkan rata-rata jumlah retikulosit pada kelompok normal, negatif, dosis 0,2
g/kgBB, dosis 0,4 g/kgBB, dan dosis 0,6 g/kgBB berturut-turut sebesar 1,54%; 2,04%;
1,54%; 1,26%; dan 0,92%. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan
yang bermakna antar kelompok (p = 0,001). Berdasarkan kedekatan nilai rata-rata
retikulosit terhadap kelompok normal, dosis 0,2 g/kgBB merupakan dosis optimum
Kesimpulannya, pemberian suspensi bayam merah berpengaruh terhadap jumlah
retikulosit pada tikus putih (Rattus norvegicus) model anemia, dengan dosis optimum
sebesar 0,2 g/kgBB berdasarkan parameter jumlah retikulosit.
atau kadar hemoglobin. Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) mengandung zat besi,
vitamin C, asam folat, dan flavonoid yang berpotensi mendukung proses eritropoiesis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian suspensi bayam merah
terhadap jumlah retikulosit pada tikus putih (Rattus norvegicus) model anemia serta
menentukan dosis optimum. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik
menggunakan 25 ekor tikus putih jantan galur Wistar yang dibagi menjadi lima kelompok,
yaitu kelompok normal, kelompok negatif, dan tiga kelompok perlakuan yang diberi
suspensi bayam merah dengan dosis 0,2 g/kgBB, 0,4 g/kgBB, dan 0,6 g/kgBB. Model
anemia diinduksi menggunakan phenylhydrazine (PHZ) selama 2 hari dan deferiprone
selama 7 hari, kemudian diberikan suspensi bayam merah selama 14 hari. Pemeriksaan
jumlah retikulosit dilakukan secara manual menggunakan pewarna Brilliant Cresyl Blue
(BCB). Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA. Hasil penelitian
menunjukkan rata-rata jumlah retikulosit pada kelompok normal, negatif, dosis 0,2
g/kgBB, dosis 0,4 g/kgBB, dan dosis 0,6 g/kgBB berturut-turut sebesar 1,54%; 2,04%;
1,54%; 1,26%; dan 0,92%. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan
yang bermakna antar kelompok (p = 0,001). Berdasarkan kedekatan nilai rata-rata
retikulosit terhadap kelompok normal, dosis 0,2 g/kgBB merupakan dosis optimum
Kesimpulannya, pemberian suspensi bayam merah berpengaruh terhadap jumlah
retikulosit pada tikus putih (Rattus norvegicus) model anemia, dengan dosis optimum
sebesar 0,2 g/kgBB berdasarkan parameter jumlah retikulosit.