Informasi karya ilmiah

Abstrak
Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, dengan anemia defisiensi besi sebagai penyebab tersering akibat berkurangnya cadangan besi tubuh.
Penurunan cadangan besi dapat dinilai melalui
pemeriksaan
hemosiderin yang merupakan salah satu indikator penyimpanan besi. Bayam merah (Amaranthus tricolor L) mengandung zat besi serta berbagai zat gizi yang berpotensi membantu memperbaiki cadangan besi tubuh. Namun, penelitian mengenai pengaruh bayam merah terhadap hemosiderin pada tikus model anemia masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian bayam merah terhadap hemosiderin pada tikus model anemia.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental yang menggunakan model tikus anemia yang diberikan serbuk bayam merah.
Penelitian menggunakan desain post test only control group dimana pemeriksaan dilakukan setelah pemberian serbuk bayam merah.
Hasil penelitian didapatkan pada kelompok normal, negatif, dan kelompok perlakuan dosis 0,2; 0,4; dan 0,6 g/kgBB, akumulasi besi diukur menggunakan perangkat lunak imageJ dilanjutkan dengan uji statistik. Data berdistribusi normal dan homogen (p > 0,05), sehingga dianalisis menggunakan One-Way Anova. Hasil analisi menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok (p < 0,05). Uji post hoc LSD menunjukkan bahwa dosis 0,6 g/kgBB merupkan dosisi paling efektif dalam meningkatkan hemosiderin, sedangkan dosis 0,2 dan 0,4 g/kgBB belum menunjukan perbedaan bermakna debandingkan kelompok model anemia.
Penurunan cadangan besi dapat dinilai melalui
pemeriksaan
hemosiderin yang merupakan salah satu indikator penyimpanan besi. Bayam merah (Amaranthus tricolor L) mengandung zat besi serta berbagai zat gizi yang berpotensi membantu memperbaiki cadangan besi tubuh. Namun, penelitian mengenai pengaruh bayam merah terhadap hemosiderin pada tikus model anemia masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian bayam merah terhadap hemosiderin pada tikus model anemia.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental yang menggunakan model tikus anemia yang diberikan serbuk bayam merah.
Penelitian menggunakan desain post test only control group dimana pemeriksaan dilakukan setelah pemberian serbuk bayam merah.
Hasil penelitian didapatkan pada kelompok normal, negatif, dan kelompok perlakuan dosis 0,2; 0,4; dan 0,6 g/kgBB, akumulasi besi diukur menggunakan perangkat lunak imageJ dilanjutkan dengan uji statistik. Data berdistribusi normal dan homogen (p > 0,05), sehingga dianalisis menggunakan One-Way Anova. Hasil analisi menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok (p < 0,05). Uji post hoc LSD menunjukkan bahwa dosis 0,6 g/kgBB merupkan dosisi paling efektif dalam meningkatkan hemosiderin, sedangkan dosis 0,2 dan 0,4 g/kgBB belum menunjukan perbedaan bermakna debandingkan kelompok model anemia.