Informasi karya ilmiah

Abstrak
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat
menyebabkan komplikasi berupa ulkus diabetikum, yaitu luka terbuka yang sulit
sembuh dan rentan mengalami infeksi bakteri. Salah satu bakteri penyebab infeksi
adalah Staphylococcus aureus yang dapat mengalami resistensi terhadap antibiotik
golongan methicillin sehingga dikenal sebagai Methicillin Resistant
Staphylococcus aureus (MRSA). Keberadaan MRSA dapat menghambat
penyembuhan luka, meningkatkan risiko komplikasi, dan memperpanjang masa
perawatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan
MRSA pada luka pasien diabetes melitus di Klinik Perawatan Luka menggunakan
antibiotik cefoxitin sebagai penanda resistensi.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan
pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas pasien diabetes melitus
dengan ulkus diabetikum grade 3–5 yang menjalani perawatan di Klinik X pada
Mei–Juni 2026. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas
Ilmu dan Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi
menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer sesuai standar Clinical and
Laboratory Standards Institute (CLSI) 2026.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 sampel luka, sebanyak 6
sampel teridentifikasi sebagai Staphylococcus aureus. Uji sensitivitas cefoxitin
menunjukkan 4 isolat (66,7%) merupakan MRSA dan 2 isolat (33,3%) merupakan
MSSA. Keempat isolat MRSA berasal dari pasien dengan luka kaki, durasi luka
lebih dari tiga bulan, disertai nanah, memiliki riwayat amputasi, dan ulkus grade 5.
Penelitian ini menunjukkan bahwa MRSA ditemukan pada sebagian besar isolat
Staphylococcus aureus, sehingga deteksi dini dan penggunaan antibiotik yang tepat
penting untuk mendukung pengendalian infeksi dan keberhasilan perawatan luka
diabetikum
menyebabkan komplikasi berupa ulkus diabetikum, yaitu luka terbuka yang sulit
sembuh dan rentan mengalami infeksi bakteri. Salah satu bakteri penyebab infeksi
adalah Staphylococcus aureus yang dapat mengalami resistensi terhadap antibiotik
golongan methicillin sehingga dikenal sebagai Methicillin Resistant
Staphylococcus aureus (MRSA). Keberadaan MRSA dapat menghambat
penyembuhan luka, meningkatkan risiko komplikasi, dan memperpanjang masa
perawatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan
MRSA pada luka pasien diabetes melitus di Klinik Perawatan Luka menggunakan
antibiotik cefoxitin sebagai penanda resistensi.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan
pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas pasien diabetes melitus
dengan ulkus diabetikum grade 3–5 yang menjalani perawatan di Klinik X pada
Mei–Juni 2026. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas
Ilmu dan Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi
menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer sesuai standar Clinical and
Laboratory Standards Institute (CLSI) 2026.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 sampel luka, sebanyak 6
sampel teridentifikasi sebagai Staphylococcus aureus. Uji sensitivitas cefoxitin
menunjukkan 4 isolat (66,7%) merupakan MRSA dan 2 isolat (33,3%) merupakan
MSSA. Keempat isolat MRSA berasal dari pasien dengan luka kaki, durasi luka
lebih dari tiga bulan, disertai nanah, memiliki riwayat amputasi, dan ulkus grade 5.
Penelitian ini menunjukkan bahwa MRSA ditemukan pada sebagian besar isolat
Staphylococcus aureus, sehingga deteksi dini dan penggunaan antibiotik yang tepat
penting untuk mendukung pengendalian infeksi dan keberhasilan perawatan luka
diabetikum