Informasi karya ilmiah

Abstrak
Anemia menyebabkan penurunan kadar hemoglobin sehingga mengurangi suplai oksigen ke jaringan dan memicu hipoksia serta stres oksidatif yang dapat menyebabkan kerusakan tubulus ginjal. Daun bayam merah (Amaranthus tricolor L.) mengandung antosianin yang berpotensi sebagai antioksidan, namun penelitian mengenai pengaruhnya terhadap histologi ginjal pada model anemia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian suspensi daun bayam merah terhadap perubahan histologi ginjal pada tikus putih (Rattus norvegicus) model anemia.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan
rancangan Post Test Only Control Group Design. Sampel penelitian menggunakan 25 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok normal, kelompok anemia, serta kelompok perlakuan yang diberikan suspensi daun bayam merah dosis 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB. Pengamatan dilakukan terhadap indeks kerusakan tubulus ginjal menggunakan preparat histopatologi yang diwarnai dengan Hematoksilin-Eosin (HE). Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD) pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata indeks kerusakan tubulus ginjal
pada kelompok normal sebesar 1,14 ± 0,03, kelompok anemia 1,39 ± 0,14,
kelompok dosis 200 mg/kgBB 1,32 ± 0,03, kelompok dosis 400 mg/kgBB 1,31 ±
0,10, dan kelompok dosis 600 mg/kgBB 1,19 ± 0,09. Hasil uji One Way ANOVA
menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok (p < 0,001). Uji lanjut LSD menunjukkan bahwa kelompok dosis 600 mg/kgBB berbeda bermakna dengan kelompok anemia (p = 0,002) dan tidak berbeda bermakna dengan kelompok normal (p = 0,412). Berdasarkan hasil tersebut, pemberian suspensi daun bayam merah mampu menurunkan indeks kerusakan tubulus ginjal pada tikus putih model anemia, dengan efek terbaik diperoleh pada dosis 600 mg/kgBB.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan
rancangan Post Test Only Control Group Design. Sampel penelitian menggunakan 25 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok normal, kelompok anemia, serta kelompok perlakuan yang diberikan suspensi daun bayam merah dosis 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB. Pengamatan dilakukan terhadap indeks kerusakan tubulus ginjal menggunakan preparat histopatologi yang diwarnai dengan Hematoksilin-Eosin (HE). Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD) pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata indeks kerusakan tubulus ginjal
pada kelompok normal sebesar 1,14 ± 0,03, kelompok anemia 1,39 ± 0,14,
kelompok dosis 200 mg/kgBB 1,32 ± 0,03, kelompok dosis 400 mg/kgBB 1,31 ±
0,10, dan kelompok dosis 600 mg/kgBB 1,19 ± 0,09. Hasil uji One Way ANOVA
menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok (p < 0,001). Uji lanjut LSD menunjukkan bahwa kelompok dosis 600 mg/kgBB berbeda bermakna dengan kelompok anemia (p = 0,002) dan tidak berbeda bermakna dengan kelompok normal (p = 0,412). Berdasarkan hasil tersebut, pemberian suspensi daun bayam merah mampu menurunkan indeks kerusakan tubulus ginjal pada tikus putih model anemia, dengan efek terbaik diperoleh pada dosis 600 mg/kgBB.