Informasi karya ilmiah

Abstrak
Transfusi darah berulang merupakan tata laksana utama bagi pasien dengan kondisi kronis seperti talasemia, namun paparan antigen eritrosit minor donor secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko terbentuknya alloantibodi pada pasien multitransfusi. Alloantibodi yang terbentuk dapat mempersulit pencarian darah donor yang sesuai dan meningkatkan risiko reaksi transfusi hemolitik, sehingga pemahaman mengenai faktor yang memengaruhinya penting dilakukan, khususnya pada rumah sakit daerah seperti RSUD Welas Asih Bandung.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian alloantibodi pada pasien multitransfusi serta menganalisis korelasi antara frekuensi transfusi dengan terbentuknya alloantibodi. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik cross-sectional pada 40 pasien multitransfusi yang dikelompokkan berdasarkan frekuensi transfusi 50 kali. Skrining alloantibodi dilakukan menggunakan metode Indirect Antiglobulin Test (IAT), dan analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square.
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 18 responden (45,0%) positif alloantibodi dan 22 responden (55,0%) negatif. Pada kelompok frekuensi transfusi 50 kali (40,9%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,170 (p>0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi transfusi dengan terbentuknya alloantibodi. Dapat disimpulkan bahwa frekuensi transfusi tidak berkorelasi signifikan dengan pembentukan alloantibodi pada pasien multitransfusi di RSUD Welas Asih, sehingga skrining antibodi secara berkala tetap perlu dilakukan pada seluruh pasien multitransfusi guna menjaga keselamatan proses transfusi darah.
Kata Kunci: Alloantibodi, Frekuensi Transfusi, Multitransfusi, Skrining Antibodi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian alloantibodi pada pasien multitransfusi serta menganalisis korelasi antara frekuensi transfusi dengan terbentuknya alloantibodi. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik cross-sectional pada 40 pasien multitransfusi yang dikelompokkan berdasarkan frekuensi transfusi 50 kali. Skrining alloantibodi dilakukan menggunakan metode Indirect Antiglobulin Test (IAT), dan analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square.
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 18 responden (45,0%) positif alloantibodi dan 22 responden (55,0%) negatif. Pada kelompok frekuensi transfusi 50 kali (40,9%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,170 (p>0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi transfusi dengan terbentuknya alloantibodi. Dapat disimpulkan bahwa frekuensi transfusi tidak berkorelasi signifikan dengan pembentukan alloantibodi pada pasien multitransfusi di RSUD Welas Asih, sehingga skrining antibodi secara berkala tetap perlu dilakukan pada seluruh pasien multitransfusi guna menjaga keselamatan proses transfusi darah.
Kata Kunci: Alloantibodi, Frekuensi Transfusi, Multitransfusi, Skrining Antibodi.